QUR`ANIC STUDIES DI EROPA

June 27, 2008 at 7:07 am 5 comments

Oleh: Irwan Masduqi

Prolog
AL-QUR`AN merupakan miracle (mu’jizat) yang telah menarik perhatian umat manusia di muka bumi. Tidak hanya dunia Timur yang menjadikannya sebagai objek studi, universitas-universitas Barat pun menyadari urgensi pengembangan kajian keislaman dalam bidang Qur`anic Studies. Sebagai verbum dei (kalâm Allâh), al-Qur`an tidak hanya dipelajari oleh al-Thabari, al-Qurthubi dan al-Zamakhsyari, tetapi juga telah menjadi concern pakar-pakar Islamologi.
Qur`anic Studies di Eropa telah melewati bentangan sejarah cukup panjang. Dalam babakan-babakan sejarah itu, Qur`anic Studies dalam frame orientalisme tak terelakkan terperangkap dalam zona akademis yang kompleks. Dikatakan kompleks, sebab ia lekat dengan motif-motif yang amat variatif. Pada periode tertentu, Qur`anic Studies muncul sebagai proyek apologis missionaris yang bertujuan untuk melakukan konversi (evangelism). Namun ia acap muncul sebagai proyek material kolonialisme yang obsolete, atau tak jarang semata-mata didorong sekadar memenuhi rasa ingin tahu (intellectual curiosity). Kompleksitas tertentu juga dapat ditemui dalam diskontinuitas Qur`anic Studies, di mana secara evolutif ia mengalami transformasi-transformasi internal akibat varian perangkat metodologis yang digunakan.

Erat kaitannya dengan fenomena itu, maka tulisan ini difokuskan pada telaah sosio-historis Quranic Studies di Eropa. Elan vital telaah ini dikerangkakan untuk mengetahui mana sisi-sisi positif yang layak diapresiasi dan sisi negatif yang perlu ditinggalkan. Dengan sikap selektif seperti ini, kita berharap menjadi lebih bijak dalam menyikapi Qur`anic Studies ala orientalisme, yakni dengan tidak menolak secara general atau sebaliknya; menerima tanpa kritisisme.

Qur`anic Studies dalam Frame Orientalisme Klasik
Para sarjana Muslim dan Barat sepakat bahwa Petrus Venerabilis (1092-1156) merupakan Islamolog asal Prancis yang pertama kali memiliki gagasan menerjemahkan al-Qur`an ke bahasa Latin. Ketika mengunjungi Spanyol, Petrus terpesona dengan kalangan Katolik Musta’ribin, yakni kalangan Kristen berbahasa Arab yang hidup di bawah pemerintahan Dinasti Islam. Petrus memanfaatkan mereka untuk menerjemahkan al-Qur`an ke dalam bahasa Latin.
Proyek ini dilaksanakan oleh Pedro de Toledo, Hermann de Dalmatie, pendeta Inggris Robert Kennet, dan mendapat bantuan orang Islam bernama samaran Muhammad. Orang Islam yang identitasnya misterius tersebut berperan sebagai penerjemah dari teks Arab ke bahasa Spanyol, kemudian yang lainnya menyunting hasil terjemahan. Spesialisasi keempat orang ini tidak diketahui secara pasti. Proyek ini selesai pada tahun 1143. Berdasarkan terjemahan ini pula, Petrus menyusun buku yang diproyeksikan untuk menghantam Islam. Petrus sendiri tidak mengerti bahasa Arab. Oleh karena itu, ia meminta bantuan asistennya, Pierre de Poiter, untuk mencarikan poko-pokok persoalan yang berpotensi dihujat.[1]
Satu abad kemudian, P. R. Monte Croce (1243-1320) meneruskan gagasan Petrus. Ia adalah pendeta Dominican dan missionaris yang sangat keras memusuhi Islam. Orientalis kelahiran Fiorentina ini kemudian menyusun buku yang mengupas pertarungan melawan umat Islam dan al-Qur`an, yang dalam manuskrip Paris diberi judul Desputatio Contra Saracenos et Alchoranem (di museum Britanica, buku itu berjudul Anti alcoran Machometi). Croce menggugat al-Qur`an karena ayat-ayatnya dinilai kontradiktif dan memiliki kekaburan kronologis. Karya Croce masuk deretan buku best seller, dicetak berulang kali sejak abad ke-16 dan mendapat apresiasi luas, khususnya setelah diterjemahkan ke bahasa Jerman oleh Martin Luther.[2]
Pada tahun 1453, Sultan Muhammad al-Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel. Umat Kristen pun berusaha bertahan di tengah-tengah hegemoni Islam yang semakin kuat di Eropa. Dalam situasi dilematik tersebut, Juan Alfonsi (w. 1456), orientalis Segobia, Spanyol Tengah, menyadari bahwa Islam tidak mungkin dihadapi dengan senjata, karena pemerintahan Otoman saat itu sedang mencapai puncak kejayaan. Dalam kesendiriannya di Ayton, Prancis, ia menemukan hasil renungan bahwa Islam harus dihadapi dengan strategi lain, yaitu menyerang dari dalam. Untuk merealisasikan taktik itu, ia memutuskan menerjemahkan al-Qur`an ke dalam bahasa Latin. Karena tidak menguasai gramatika Arab, ia memperalat kelompok Muslim Spanyol yang menguasai bahasa Arab, agar menerjemahkan al-Qur`an ke dalam bahasa Latin. Juan Alfonsi mempelajari terjemahan itu untuk menulis buku serangan terhadap Islam dengan judul De Mittendo Gladio Spiritus in Sarracenes. Di sini kita melihat bahwa ancaman militer Otoman terhadap Eropa mendorong kajian para peneliti Barat (outsiders) terhadap al-Qur`an mengarah pada inklinasi tidak objektif.[3]
Orientalis yang ikut berpartisipasi dalam proyek penerjemahan al-Qur`an ke dalam bahasa Latin adalah Theodor Bibliander/Buchmann (1504-1564). Orientalis Swiss ini juga berperan mengedit ulang, mencetak ulang dan mempublikasikan terjemahan versi Petrus di Bazel, Swiss, pada tahun 1550. Terjemahannya diberi judul Latin Machumetis, Saracenorum Principis, ejusque vitae, ac doctrinam ipseque Alcoran. Terjemahnya dianggap mengandung kekeliruan krusial oleh Erpinius, Nisselius dan Voux, karena sebenarnya kemampuan bahasa Arab Buchmann tidak begitu bagus. Meski demikian, terjemahan tersebut tetap dijadikan acuan Qur`anic Studies para Islamolog Eropa sampai akhir abad ke-17.[4]
Al-Qur`an kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh George Sale (1697-1736), orientalis London. Pada tahun 1734, Sale berhasil menerjemahkan al-Qur`an dengan judul The Koran Commonly Called Alcoran of Mohammed. Terjemah ini cukup otoritatif sepanjang abad ke-18 karena terkenal dengan kejelasan dan ketelitiannya. Terjemahan Sale pada tahun 1746 dialihbahasakan ke dalam bahasa Jerman oleh Thomas Arnold.[5]
Dibanding dengan orientalis-orientalis lain, Sale dapat dinilai lebih netral terhadap Islam. Sale memang pemeluk Kristen, tetapi ia bukanlah fanatikus seperti para missionaris lainnya. Sebagai bukti, misalnya, Sale mengimani kenabian Muhammad saw. Dia banyak memberikan pembelaan terhadap Islam dari serangan tokoh-tokoh Gereja Katolik yang didasari fanatisme dan eksklusivisme. Dalam polemik-polemik keagamaan, ia lebih mengedepankan rasionalitas ketimbang fanatisme.[6]
Sikap Sale dapat dianggap sebagai pergeseran paradigma bagi orientalisme. Jika Islamolog klasik terkesan subjektif, antagonis dan apologis, maka Sale hendak menilai Islam secara objektif dan simpatik. Edward Said, selaku kritikus orientalisme paling terkemuka, pun mengakui hal ini. Dalam karya monumentalnya, Orientalism, Edward Said menilai bahwa jika Islamolog Barat era Renaisans terbukti kaku dan memusuhi Islam, maka Islamolog abad kedelapan belas menghadapi dunia Timur secara objektif. Ia menyatakan bahwa tafsiran al-Qur`an dari Goerge Sale merupakan contoh perubahan struktur paradigmatik orientalisme modern. Tidak seperti para pendahulunya, Sale mencoba berurusan dengan sejarah Arab dalam bahasa yang dipakai oleh sumber-sumber Arab. Lebih jauh, ia membiarkan para penafsir Muslim berbicara atas nama mereka sendiri. Sale hendak menjelaskan Islam yang sejati di Eropa.[7]
Segendang-sepenarian dengan George Sale, Andrianus Relandus/Reeland (w. 1718), orientalis Belanda, berusaha menjelaskan nilai-nilai Qur`anic kepada Eropa secara netral dan objektif, sebagaimana yang dipahami oleh kaum Muslimin. Dalam karyanya, De Religione Libri duo Quorum prior exhibet Compendium Theologiae Mohammedicae, ex Codice mso. Arabice editum. Latine versum et Notis Illustratum. Posterior examinat nonnula quae falso Mohammedanis Tribuuntur, Reeland mengklarifikasi asumsi-asumsi orang Eropa yang populer sejak abad pertengahan hingga abad ke-17 terhadap al-Qur`an, Sunnah dan Islam. Berdasarkan pemahamannya secara langsung kepada al-Qur`an, Sunnah dan tulisan para sarjana Islam, Reeland berusaha meluruskan pandangan negatif dan stereotip Eropa terhadap Islam, terutama yang bersumber dari hasutan tokoh-tokoh Kristen, semisal John al-Dimasqi (kl. 650-750).[8]
Objektivitas dalam studi al-Qur`an juga ditunjukan oleh Josef von Hammer-Purgstall (1774-1856). Pada sekitar tahun 1809-1818, Josef dalam majalah Fundgruben des Orients berbeitet durch eine Gesellschaft von Leibhabern mengungkapkan ketakjubannya kepada al-Qur`an. Bagi Josef, teks al-Qur`an merefleksikan pancaran nilai ketuhanan transendental, sehingga kesuksesan dakwah Islam bukan karena kekuatan pedang, melainkan lantaran keindahan bahasa kitab suci Islam.[9]

Transformasi Metodologis
Objektivitas para Islamolog Barat semakin bisa dirasakan pasca diterapkannya pendekatan (approach) fenomenologis dalam Qur`anic Studies. Metodologi ini pertama kali diperkenalkan oleh Edmund Gustay Albrecht Husserl (1859-1938), filsuf Cekoslovakia. Fenomenologi Husserl bertujuan mencari esensi suatu fenomena dengan membiarkan fenomena itu termanifestasikan ‘apa adanya’, tanpa dibarengi oleh prasangka (presupposition/prejudice). Dalam mencari esensi objektif suatu fenomena, Husserl mengatakan, “Zuruck zuden sachen selbt” (kembalilah kepada realitas itu sendiri).
Jika diaplikasikan dalam Qur`anic Studies, maka Islamolog harus memahami al-Qur`an sebagaimana diyakini oleh kaum Muslimin. Dalam konteks ini, Willen A. Bijlefeld, dalam Islamic Studies Within the Perpetive of the History of Religion, berpendapat bahwa al-Qur`an yang ‘sebenarnya’ bukan yang ditemukan oleh sarjana Barat, tetapi al-Qur`an yang sebenarnya adalah apa yang diketahui oleh sarjana Barat melalui masyarakat Islam. Aplikasi pendekatan fenomenologi dalam studi al-Qur`an telah dilakukan oleh para Islamolog Barat, antara lain oleh Charles J. Adams, Wiliam Graham, Maurice Bucaile, Marcel A. Boisard, W. C. Smith, Roest Crollius, dan lain-lain. Pendekatan ini dinilai sebagai metodologi yang ramah, accountable, empatik dan positif dalam studi al-Qur`an, karena berdasarkan prinsip memahami al-Qur`an menurut keyakinan umat Islam itu sendiri.
Naifnya, inklinasi objektif sebagian Islamolog –yang menggandeng pendekatan fenomenologis– diperkeruh lagi oleh kecenderungan reduksionis dan apologis Islamolog-islamolog lain dengan menggunakan pendekatan historisisme. Historisisme muncul pada abad kesembilan belas. Mentor metodologi ini adalah Leopold von Ranke (w. 1886). Historisisme memandang bahwa suatu entitas, baik berupa institusi, nilai-nilai maupun agama adalah berasal dari lingkungan fisik, sosio-kultural dan sosio-religius tempat entitas itu muncul.
Dalam pandangan Fuck-Frankfurt, diterapkannya perangkat historisisme dalam studi al-Qur`an telah mendorong orientalis Barat mengasalkan al-Qur`an dari pengaruh kitab suci dan tradisi Yahudi-Kristen. Hal ini nanti akan kita lihat secara detail dalam capaian Theodor Noldeke, Goldziher, Regis Blechere, John Edward Wansbrough, Richard Bell dan lain-lain.[10]

Qur`anic Studies dalam Wawasan Orientalisme Modern
Selain terjemahan-terjemahan al-Qur`an –di mana terjemahan Arthur John Arberry (1905-1969), The Koran Interpreted, dianggap paling representatif dan objektif dalam menjelaskan ajaran Islam kepada Eropa– karya-karya orientalis dalam bidang studi al-Qur`an pada era modern memiliki kecenderungan variatif:[11]
Pertama, karya-karya yang berusaha mencari pengaruh Yahudi-Kristen di dalam al-Qur`an. Genre ini dinilai oleh Fuck-Frankfurt sebagai imbas dari aplikasi historisisme dalam studi al-Qur`an. Islamolog-islamolog yang mengkaji historisitas al-Qur`an, dengan menggunakan teori pinjaman dan pengaruh (theories of borrowing and influence),[12] akhirnya sampai pada konklusi bahwa al-Qur`an tidak lebih daripada gema agama Yahudi atau Kristen dan, lebih dari itu, Muhammad saw tak lain hanyalah murid dari agamawan-agamawan Yahudi atau Kristen.
Karya-karya yang mencoba mencari pengaruh Yahudi terhadap al-Qur`an antara lain adalah Was hat Mohammed aus dem Judenthume Aufgenommen karya Abraham Geiger, Judische Elemente im Koran karya Hartwig Hirschfeld, dan Qur`anic Studies: Sources and Methods of Scriptural Interpretation karya John Edward Wansbrough (1928-2002). Dalam buku ini, Wansbrough mengklaim bahwa al-Qur`an hanyalah imitasi dari tradisi Yahudi dan Perjanjian Lama (Old Testament).[13]
Syahdan, karya yang menjadi representasi pendapat yang mengasalkan al-Qur`an dari pengaruh ajaran Kristen adalah The Origin of Islam in It’s Christian Environment, anggitan Richard Bell. Menurutnya, pengaruh Kristen belum terjadi pada fase akhir Makkah dan awal Madinah. Tetapi pada fase berikutnya, ada beberapa persamaan antara kisah al-Qur`an dengan Bible. Sebagai sample, misalnya, kisah penolakan penyaliban Yesus adalah diambil dari salah satu sekte Kristen di Syiria.
Genre orientalis yang mencari pengaruh Yahudi-Kristen di dalam al-Qur`an ini banyak mendapat kritik dan resistensi dari beberapa pakar, karena dianggap hanyalah sebagai studi asumtif. Fazlur Rahman, sebagai representasi pemikir Islam (insider), memandang karya Wansbrough sebagai studi yang tidak memiliki data-data historis mengenai asal-usul, sifat, evaluasi, dan personalitas-personalitas yang terlibat di dalam ‘tradisi-tradisi’ yang dimaksud. Issa J. Boullata, peneliti Barat (outsider), menganggap kajian Wansbrough baru merupakan hipotesis, belum merupakan tesis yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sementara itu, W. Montgomery Watt menilai studi Wansbrough hanyalah asumsi yang meragukan.[14]
August Fischer (1865-1949), orientalis Jerman spesialis bahasa Arab, menolak pandangan orientalis-orientalis yang mencoba mengasalkan al-Qur`an dari tradisi Yahudi-Kristen. Baginya, Muhammad saw hidup di tengah-tengah tradisi paganisme, sehingga Muhammad saw sejatinya terpengaruh oleh tradisi dan bahasa penyair-penyair Arab. Dengan hipotesa itu, ia menyimpulkan bahwa ada relasi kuat antara gaya bahasa perdukunan Jahiliyah (kahin) dengan bahasa al-Qur`an. Di sinilah letak urgensi mengatahui syair Jahiliyah dalam menginterpretasikan al-Qur`an.[15]
Heribert Busse (l. 1926), orientalis Jerman, memberikan perspektif lain. Dalam Die Theologischen Beziehungen des Islam Zu Judentum und Christentum, Busse menegaskan independensi Islam dari pengaruh agama Yahudi dan Kristen. Muhammad saw, dalam pandangannya, mustahil pernah membaca dan meniru ajaran-ajaran Biblikal, sebab fakta historis menunjukkan bahwa Bible belum diterjemahkan ke dalam bahasa Arab hingga abad ke-7/8 Masehi.
Harus segera digarisbawahi, meskipun Muhammad saw tak mungkin membaca dan meniru ajaran Yahudi-Kristen, Busse tetap meneguhkan adanya relasi erat antara Islam dengan Yahudi-Kristen, karena sejatinya misi al-Qur`an adalah kembali kepada ‘gagasan Semitik’ tentang ke-Esa-an Tuhan.[16] Pada gilirannya, pandangan Busse ini dikukuhkan oleh Karen Armstrong dengan pernyataan, “Seorang pedagang Arab dari kota Makkah (baca: Muhammad saw) tak pernah membaca Al-Kitab dan tak pernah mendengar tentang Yesaya, Yeremia, dan Yeheskiel”.[17]
Kedua, karya-karya yang diproyeksikan membuat rangkaian kronologis ayat-ayat al-Qur`an, seperti Geschichte des Qorans karya Theodor Noldeke (1836-1931)[18] dan karya-karya Regis Blachere (1900-1973). Geschichte des Qorans merupakan studi kritik sastra-historis yang hendak menguak historisitas teks al-Qur`an. Dengan pendekatan filologis dan data-data sejarah, Noldeke berusaha membuat rangkaian kronologis ayat-ayat al-Qur`an. Awalnya ia mengadopsi klasifikasi konvensional Makiyyah dan Madaniyyah, namun kemudian klasifikasi itu dimodifikasi dengan cara membagi ayat Makiyyah menjadi tiga fase: 1) Ayat-ayat pendek tentang kerasulan Muhammad dan paganisme; 2) Ayat-ayat panjang tentang nasehat dan peringatan. Karakteristik ayat-ayat ini pada umumnya mengandung pembahasan tentang kebenaran janji dan ancaman Tuhan; 3) Dari segi bahasa, ayat Makiyyah fase ketiga tidak memiliki karakteristik khusus, tetapi ia dicirikan oleh tema-tema seputar ritus-ritus keagamaan, keharaman jenis-jenis makanan tertentu, relasi Muslimin dengan kaum pagan, Kristiani dan Yahudi, dan ayat-ayat yang relatif keras memperingatkan kebenaran janji dan ancaman kepada kaum kafir. Hal ini berbeda dengan ayat-ayat Madaniyyah yang pada umumnya mengandung legislasi hukum partikular dan sistem undang-undang kemasyarakatan.[19]
Regis Blachere (1900-1973), orientalis Paris yang menggeluti bahasa dan sastra Arab di Sorbonne, memberikan rangkaian kronologis yang sedikit berbeda. Dalam Introduction au Coran dan The Qur’an Translated, with a critical re-arragement of Surahs, ia mewanarkan empat klasifikasi periodik atas fase-fase ayat al-Qur`an: 1) Ayat-ayat Makiyyah tentang dakwah kepada agama baru (agama rahmat), kemampauan Allah menciptakan manusia, kebangkitan di hari akhir dan sebagainya; 2) Ayat Makiyyah tentang perlawanan kaum kafir (les infideles) Qurays terhadap Muhammad dan ayat monoteisme; 3) Dalam fase ini, dakwah Muhammad semakin meluas ke kabilah-kabilah non-Qurays. Sehingga fase ini dicirikan dengan ayat-ayat yang diawali frase “Ya ayyuha al-nas”; 4) Ayat-ayat yang turun seiring munculnya sistem teokrasi di Madinah, sehingga ayat-ayatnya memiliki ciri khas formalistik seputar aturan-aturan hukum syariat.[20]
Kronologisasi merupakan proyek pelik yang tak jarang menggunakan generalisasi-generalisasi spekulatif. Noldeke pun mengakui bahwa kronologisasinya hanya bersifat perkiraan atau estimasi (tartîb al-takhmîn), karena keterbatasan data-data historis yang valid.[21] Rudi Paret dan Fazlur Rahman juga menilai bahwa kronologisasi ayat-ayat al-Qur`an yang dilakukan beberapa orientalis adalah mustahil.[22]
Ketiga, karya-karya yang menjelaskan tradisi tafsir al-Qur`an, seperti Die Richtungen der Islamischen Koranauslegung racikan Goldziher, orientalis Yahudi asal Hungaria yang pernah belajar di al-Azhar, dan fi Dzilal al-Qur`an: Ru’yah Istisyraqiyyah Faransiyyah karya Olivia Careh, orientalis Prancis. Dalam introduksi Die Richtungen der Islamischen Koranauslegung, Goldziher (1850-1921) terlebih dahulu mencoba membuktikan problem originality al-Qur`an sebelum secara detail membahas inklinasi corak-corak tafsir (Qur`anic exegesis). Baginya, problem originality dapat dibuktikan dengan fakta perbedaan makna teks al-Qur`an akibat perbedaan bacaan. Sementara itu, salah satu sebab yang melatarbelakangi munculnya keragaman bacaan al-Qur`an (variae lectiones) adalah ketidaksempurnaan aksara Arab –yakni ortografi lama (scriptio defectiva)– yang tidak memiliki tanda-tanda vokal dan titik-titik diakritis pembeda konsonan.
Setelah memberikan contoh-contoh problem originality, Goldziher berusaha memetakan tipologi corak tafsir. Secara epistemologis, tipologi tafsir al-Qur`an dibagi menjadi tiga: tafsir transferensial (tafsir bi al-ma`tsur), tafsir rasional (tafsir bi ra’yi) dan tafsir sufistik (tafsir fi dhaw` al-tashawuf). Goldziher juga menjelaskan tipologisasi tafsir secara taksonomis-sektarianistik menjadi tafsir Syiah, tafsir Sunni, tafsir Muktazilah dan seterusnya. Dalam tipologisasi taksonomis-sektarianistik, Goldziher berusaha membuktikan kebenaran statemen Peter Werenfles bahwa “Setiap orang dapat mencari pembenaran ideologisnya dalam Kitab Suci, dan setiap orang pasti akan menemukan apa yang dicari”. Hal itu juga berlaku dalam teks al-Qur`an, di mana ia telah dibajak agar memberikan alternatif-alternatif acuan bagi pembenaran ideologi dan sikap politik tertentu. Sebagai penutup, secara sosiologis ia menganalisis kemunculan dan perkembangan tafsir modern pasca reformasi Muhammad Abduh.[22]
Di tengah-tengah arus radikalisme yang semakin meluas, studi Olivia Careh menemukan relevansinya. Karya Olivia, fi Dzilal al-Qur`an: Ru’yah Istisyraqiyyah Faransiyyah mencoba membuktikan bahwa tafsir Sayyid Qutub, fi Dzilal al-Qur`an, telah menjadi texte-icone (al-nash al-rumzi) dan rujukan bagi aktivis gerakan militan kontemporer. Olivia mengklaim tafsir fi Dhilal al-Qur`an layak bertanggung jawab atas fenomena radikalisme dan terorisme, khususnya di Mesir di bawah slogan ‘takfir’ dan ‘jihad’ (pengkafiran dan jihad melawan individu, sistem, dan isme-isme yang dianggap kafir) yang didengungkan oleh Qutbistes (al-Quthbiyyun) sejak tahun 1974. Olivia dalam buku tersebut tampak setuju dengan penilaian J. Jonsen dan Edmonde Robet bahwa tafsir fi Dzilal al-Qur`an merupakan “commentaire apologetique” (tafsir difa’i).[23]
Keempat, karya-karya tantang penomoran ayat-ayat dan indek kalimat al-Qur`an. Pada tahun 1834, di Leipzig, seorang orientalis Jerman bernama Flugel menerbitkan la vulgate (mushhaf) hasil kajian filologinya yang ia namakan dengan Corani Textus Arabicus. Sampai saat ini, karya Flugel ini menjadi acuan mayoritas orientalis, khususnya dalam hal penomoran ayat-ayat al-Qur`an. Selain itu, Flugel juga menulis Concordantiae Corani Arabicae (Leipzig, 1842). Buku ini merupakan indeks kalimat al-Qur`an yang pertama kali disusun, sehingga karya serupa yang ditulis setelahnya hanya mengikuti metodenya, baik di Barat maupun di dunia Arab. Berkat ketelitian Flugel, karyanya menjadi stimulasi Fuad al-Baqi untuk menyusun al-Mu’jam al-Mufahras li Qur’an al-Karim. Mu’jam karya al-Baqi ini dinilai sepenuhnya merujuk pada karya Flugel, karena terdapatkan dependensi yang amat mencolok.[24]
Kelima, karya tentang varian bacaan al-Qur`an (variae lectiones). Dalam diskursus ini, Otto Pretzl (l. 1893) merupakan orientalis asal Munich yang cukup otoritatif. Dalam lawatannya ke Istanbul, Pretzl melakukan penelitian terhadap dua buku induk mengenai bacaan al-Qur`an, yakni Kitâb al-Tafsîr fî al-Qirâ`at al-Sab’ dan al-Muqni’ fi Rasm Mashâhif al-Amshâr ma’a Kitâb al-Nuqâth karya Abu Amr Utsman bin Sa’id.[25]
Selain Otto Pretzl, varian bacaan al-Qur`an juga menjadi objek studi Arthur Jeffery (1892-1959) dan Bergstraesser. Dua orientalis yang disebut terakhir ini ingin merekonstruksi sejarah al-Qur`an yang telah melewati babakan periodik cukup panjang. Kajian kesejarahan al-Qur`an bagi mereka membutuhkan pelacakan ortografi klasik dan data-data tentang varian bacaan al-Qur`an. Terkait varian tujuh bacaan (qira`ah sab’ah) mutawatir, mereka telah mendapatkan data-data sistematis dalam al-Taysir fi al-Qira`ah al-Sab’, karya al-Hafidh al-Jalil Abi ‘Amr ‘Utsman al-Dani, sementara data-data terkait varian sepuluh bacaan (qira`ah ‘asyrah) mereka dapati dari al-Qira`ât al-‘Asyr, karya Ibn Jazari. Namun mereka kesulitan melacak bacaan nyleneh (nichtkanonische koranlesarten/qira`ah al-syadz) yang tercecer dalam tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari, al-Bahr al-Muhît karya Abu Hayan, Fath al-Qadir karya Syawkani, dan karya-karya pakar gramatika Arab seperti Syibawayh, Ibn Jinni, Ibn Anbary dan lain-lain. Untuk meminimalisir kerumitan itu, mereka berusaha mengedit Muhtashar fi Syawadz al-Qur`an min Kitâb al-Badî’ (Sammlung Nichtkanonische Koranlesarten), karya Ibn Khalawayh. Buku ini dinilai cukup komprehensif mencakup bacaan nyleneh yang dianggap tandingan bacaan resmi.[26]
Selain concern dalam bidang varian bacaan al-Qur`an, Arthur Jeffery, orientalis Australia, juga memiliki magnum opus berjudul The Qur’an As Scripture. Studi komparatifnya mengantarkan pada kesimpulan bahwa sejatinya tidak ada kitab suci yang sakral, tetapi tindakan komunitas umat beragama (the action of community) yang membuat sebuah kitab suci menjadi sakral dan terkuduskan. Al-Qur`an, Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Avesta, Veda dan lain-lain, telah menjadi ecriture (al-kitâb al-muqaddas) lantaran semata-mata disakralkan oleh para pemeluk agama.[27]

Epilog
Orientalisme dalam studi al-Qur`an telah melewati sejarah panjang dan mengalami pergeseran-pergeseran epistemologis. Qur`anic Studies sejak era John al-Dimasyqi (kl. 650-750) hingga abad tujuh belas dapat dikatakan sebagai bentuk apologi-apologi missionaris. Proyek penerjemahan al-Qur`an pada awalnya bukan semata-mata bertujuan ‘ingin tahu’, melainkan untuk mendeskripsikan Islam dan kemudian menyerangnya, terlebih pasca menguatnya hegemoni Otoman di Eropa.
Pada abad kedelapan belas, Qur`anic Studies mengarah pada arus yang relatif objektif sejak kemunculan Islamolog-islamolog seperti George Sale dan Andrianus Relandus. Mereka hendak menyelamatkan Islam dari image-image buruk di Barat. Objektivitas semakin tampak ke permukaan bersamaan dengan aplikasi fenomenologi dalam studi al-Quran.
Objektivitas itu kemudian harus diporak-porandakan oleh subjektivitas para Islamolog setelah mereka mengaplikasikan historisisme dalam studi al-Quran. Pendekatan itu terbukti telah menyebabkan orientalisme terjerembab dalam upaya mencari pengaruh Yahudi-Kristen dalam al-Qur`an. Nah, meskipun genre ini mendapatkan perlawanan massif dari sebagian orientalis sendiri, tetapi genre ini masih hegemonik hingga abad kedua puluh.
Dus, subjektivitas-subjektivitas dalam orientalisme pada gilirannya menstimulasi Arthur John Arberry (1905-1969), orientalis Inggris, untuk kembali mengingatkan orientalis-orientalis Eropa agar tidak sembarangan dalam menilai Islam. Untuk mendorong orientalisme kembali kepada netralitas dan objektivitas, Arberry menyatakan, “Sebelum memberikan penilaian terhadap dunia Timur dan masyarakatnya, bagi para pakar Barat hendaknya menyingkirkan ketakutan, kesalahpahaman dan kebohongan-kebohongan yang telah membantu. Sikap tersebut merupakan suatu sikap positif yang harus dipunyai sarjana-sarjana Barat yang memiliki hati nurani hidup. Meskipun menepiskan perasaan itu terasa sangat berat”.[28]
Sebagai respon balik terhadap Qur`anic Studies orientalis yang subjektif dan tidak simpatik, maka muncullah karya-karya apologetik dari sarjana Muslim era modern, baik yang bersifat emosional, polemis maupun argumentatif. Sebagai sample, misalnya, Abd al-Rahman al-Badawi,[29] Difâ’an ‘an al-Qur`an Dhidda Muntaqidîh; Muhammad Abu Laylah, al-Qur`an al-Karîm min Mandhûr al-Istisyraqi: Dirâsah Naqdiyyah Tahlîliyyah; Abd al-Fatah Ismail Syalbi, Rasm al-Mushhaf al-‘Utsmâni wa Awhâm al-Mustasyriqin fi Qirâ’ah al-Qur’an al-Karîm, Abd al-Fatah Abd al-Ghani al-Qadhi, al-Qirâ`âh fi Nadhr al-Mustasyriqîn wa al-Mulhidîn; M. al-Azami, The History of The Quranic Text: from Relelation to Compilation dan lain-lain.[30]
Karya-karya responsif apologetik ini bermanfaat untuk meneguhkan kembali identitas nilai-nilai budaya dan warisan tradisi Islam. Ironisnya, gerakan intelektual apologetik ini rata-rata hanya menampilkan aspek positif dari warisan budaya Islam, tanpa mengelaborasi lebih detail dan kritis terhadap problem-problem internalnya. Jika para orientalis cenderung ‘menjelek-jelekan’, maka kaum apologis Muslim cenderung ‘membaik-baikan’. Jika orientalisme acap terjebak dalam usaha-usaha reduksionis, maka sebaliknya kaum apologis Muslim ‘terkadang’ mendistorsi, mendramatisir data dan memuji-muji secara berlebihan capaian warisan tradisi Islam itu sendiri. Artinya, kedua belah pihak sama-sama terperangkap dalam subjektivitas dan eksklusivitas.

Daftar Pustaka
[1] Regis Blachere, Introduction au Coran, diarabakan oleh Ridha Sa’adah, Beirut: Dar al-Kutub, cet, I., 1974, h. 14-15. Bandingkan dengan Abd al-Rahman al-Badawi, Mawsu’ah al-Mustasyriqin, Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, cet. I, 1993, h. 110-111.
[2] Ibid, h. 306.
[3] Ibid, h. 41.
[4] Ibid, h. 75 & 111.
[5] Muhammad Auni Abd al-Rauf, Juhûd al-Mustasyriqîn fi Turâts al-Arabi bayn al-Tahqîq wa al-Tarjamah, Kairo: Majlis A’la li Tsaqafah, cet. I, 2004, h. 223-225.
[6] Abd al-Rahman al-Badawi, op. cit., h. 258-259.
[7] Meskipun Edward Said menyadari adanya transformasi orientalisme modern menuju objektivitas, namun ia tetap saja secara general mendefinisikan orientalisme sebagai suatu cara memahami dunia Timur, berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa. Orientalisme merupakan gaya pikir yang berdasarkan pembedaan ontologis dan epistemologis antara ‘Timur’ (the Orient) dan ‘Barat’ (the Occident). Orientalisme dapat dianalisa sebagai lembaga hukum yang berurusan dengan dunia Timur, dengan membuat pernyataan-pernyataan tentangnya, mendeskripsikannya dan memerintahnya. Intinya, orientalisme merupakan kolonialisme dan gaya Barat untuk mendominasi Timur. Lihat Edward Said, Orientalism, dialihbahasakan oleh Asep Hukmat, Bandung: Pustaka, cet. IV, h. 2-5 & 155.
[8] Abd al-Rahman al-Badawi, op. cit., h. 307. Konon John al-Dimasyqi menganggap Muhammad saw sebagai penipu kaum Arab yang bodoh-bodoh. Muhammad menyembunyikan epilepsinya ketika menerima wahyu dari Jibril. Muhammad memiliki hobi perang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan.
[9] George Tamir, Muqaddimah al-Tarjamah al-‘Arabiyyah li Tarikh al-Qur’an, Beirut: Konrad-Adenauer-Stiftung, cet. I, 2004, h. XV.
[10] Yudhie R. Haryono & May Rochmawatie, Al-Quran: Buku yang Menyesatkan & Buku yang Mencerahkan, Bekasi: Gugus Press, cet. I, 2002, h. 85 & 90.
[11] Kategorisasi ini merupakan modifikasi dari klasifikasi kategoris Fazlur Rahman, guru besar pemikiran Islam di University of Chicago. Dalam Major Themes of the Qur`an, Rahman hanya memberikan tiga kategori. Kategorisasi itu dinilai oleh penulis kurang memadai, lantaran belum mengakomodir karya-karya orientalis dalam diskurus keragaman bacaan al-Qur`an (variae lectiones) dan lain-lain. (Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur`an, dialihbahasakan oleh Anas Mahyuddin, Bandung: Pustaka, cet. I, 1983, h. X-XI).
[12] Pada tahun 1927, teori pinjaman dan pengaruh (theories of borrowing and influence) juga digunakan oleh Alphonse Mingana (1878-1937) guna menguak pengaruh bahasa Aramaic ke dalam gaya bahasa al-Qur`an. Ia adalah pendeta Kristen asal Iraq dan guru besar di Universitas Birmingham, Inggris. Dalam artikelnya, Syriac Influence on the Style of the Kur’an, ia mengatakan “Sudah tiba saatnya melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramaic dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani (The time has surely come to subject the text of the Koran to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian scriptures).” Ia mencoba menerapkan Biblical Criticism dalam studi al-Qur`an. (Lebih lanjut baca: Alphonse Mingana, Syriac Influence on the Style of the Kur’an, http://www.answering-islam.org/Books/Mingana/Influence/. http://muhammadanism.org/Quran/syriac_influence_quran.pdf).
[13] Basam Jamal, Asbâb al-Nuzûl ‘Ilman min ‘Ulûm al-Qur`an, Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, cet. I, 2005, h. 38.
[14] Yudhie R. Haryono, op. cit., h. 87-88.
[15] August Fischer juga menulis Qur`ân Abî al-A’la al-Ma’arrî (Leipziq: Hirzel, 1942). Dalam buku ini, ia mengajukan analisis filologis terhadap kitab al-Fushûl wa al-Ghâyah, karya Abu al-A’la al-Ma’arri, yang dianggap oleh beberapa kalangan sebagai tandingan al-Qur`an. Analisisnya sampai pada konklusi bahwa tuduhan, yang mengatakan bahwa al-Ma’arri hendak menandingi al-Qur`an, adalah tidak benar. Lihat Abd al-Rahman al-Badawi, op. cit., h. 403-406.
[16] Heribert Busse, Die Theologischen Beziehungen des Islam Zu Judentum und Christentum: Grundlagen des Dialogs im Koran und die gegenwartige Situation, diarabkan oleh al-Masyru’ al-Qawm li Tarjamah, Kairo: Majlis A’la li Tsaqafah, cet. I, 2005, h. 7.
[17] Karen Armstrong, A History of God: The 4000-Year Quest of Judaisme, Cristianity and Islam, dialihbahasakan oleh Zaimul Am, Mizan, cet. VI, 2004, h. 186.
[18] Theodor Noldeke adalah orientalis otoritatif asal Hamburg, Jerman. Gelar sarjana ia dapatkan pada tahun 1856 dengan mengajukan disertasi tentang sejarah al-Qur`an. Pada tahun 1858, Akademi Paris memberikan hadiah berkat penelitiannya tentang sejarah al-Qur`an. Pada tahun 1860, ia bersama dengan muridnya, Schwally, menerbitkan anggitannya dalam bahasa Jerman, berjudul Geschichte des Qorans. Selain membahas kronologi ayat al-Qur`an, Geschichte des Qorans juga mengeksplorasi isu-isu rekonstruksi sejarah kodifikasi al-Qur`an, varian bacaan Ustmani versus non-Utsmani, sejarah teks al-Qur`an dan lain-lian. Perlu dicatat, Theodor Noldeke termasuk orientalis yang mengakui kenabian Muhammad saw. Tetapi, seperti orientalis yang menggunakan pendekatan historisisme, Noldeke juga menganggap bahwa Muhammad mengadopsi tradisi-tradisi Yahudi-Kristen.
[19] Theodor Noldeke, Geschichte des Qorans, diarabkan oleh George Tamir, Beirut: Konrad-Adenauer-Stiftung, cet. I, 2004, vol. I, h. 61-232.
[20] Regis Blachere, op. cit., h. 26-27. Bandingkan dengan Basam Jamal, op. cit., h. 42-43. Karya Blachere juga membahas struktur dan sejarah formatif mushaf (la vulgate) yang menurutnya dipenuhi oleh polemik-polemik. Polemik seputar kodifikasi dan varian bacaan, menurutnya, menunjukkan bahwa al-Qur`an terjangkit oleh problem originality.
[21] George Tamir, op. cit., h. XVII.
[22] Fazlur Rahman, loc. cit.
[23] Ignaz Goldziher, Die Richtungen der Islamischen Koranauslegung, diarabkan oleh Abd al-Karim al-Najar, Dar al-Iqra`, cet. III, 1985. Goldziher termasuk orientalis yang mengasalkan ajaran Muhammad saw dari adopsi tradisi Yahudi-Kristen. Lebih detail baca Ignaz Goldziher, Vorlesungen: Uber Den Islam, diarabkan oleh Muhammad Yusuf Musa dkk. Beirut: Dar al-Raid al-Arabi, h. 5-6.
[24] Olivia Careh, fi Dhilal al-Qur`an: Ru`yah Istisyraqiyyah all-Faransiyyah, diarabkan oleh Muhammad Ridha ‘Ajaj, al-Zahra li al-I’lam al-Arabi: Cairo, cet. I, 1993.
[25] Abd al-Rahman al-Badawi, op. cit., h. 441-443.
[26] Ibid, h. 82-83.
[27] Arthur Jeffery dalam Introduksi buku Ibn Khalawayh, Muhtashar fi Syawadz al-Qur`an min Kitab al-Badi’ (Sammlung Nichtkanonische Koranlesarten), Kairo: Maktabah al-Mutanabi, t.t., h. 6-7.
[28] Arthur Jeffery, The Qur`an As Scripture, diarabkan oleh Nabil Fiyadh, Dar Exact, cet. I, 1996, h. 3.
[29] Abd al-Rahman al-Badawi, op. cit., h. 1-3.
[30] Download file PDF http://www.waqfeya.com/list.php?cat=11.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

sekilas info! Tembok Berlin Bukan Sekadar Sejarah Masa Lalu

5 Comments Add your own

  • 1. Retno Damayanthi  |  June 28, 2008 at 12:34 am

    Waduh
    Kang Popon kenapa? Kok tiba2 topiknya berat nih. Tobat ya? Atau mau pindah ke Subpok Arab? Hehehe..
    Semoga diluruskan jalannya, dimudahkan urusannya, diterima di sisinya…huekekekek sisi siapa yaaa???

    btw, ciee artikelnya udah pake gambar loh keren euy…!! Pisss

    Reply
  • 2. riyalat  |  July 1, 2008 at 3:41 am

    Alhamdulillah..ya Allah akhirnya Engkau buka pintu hidayah kepada Danrem Tasik ini..
    Hehehe…
    Wah, artikel ttg Qur’an ini sebuah informasi yang menarik..paling tidak kita jadi tahu ternyata orang barat juga mempelajarinya..

    NB: Ijin saran utk Danrem Tasik, kalau artikelnya panjang mohon dipotong gt ganti..biar tampilannya lbh ringkas. Terimakasih.

    Reply
  • 3. Sulaiman  |  July 31, 2008 at 1:49 am

    para ahli ketimuran (orientalis) dari negara-negara barat akan selalu mencari, meneliti dan menelaah berbagai ilmu tentang keislaman, termasuk menerjemahkan Al Qur’an, sayangnya ulasan mereka hanya bersifat retorika logis dan aqliyah sehingga keterangan dari setiap ahli (dari mereka) berbeda-beda. Mungkinkkah semua perbedaan ini bisa dijadikan pengangan?

    Reply
  • 4. Irwan Masduqi  |  August 17, 2008 at 11:09 pm

    Salam kenal, terima kasih sudah mengapresiasi artikel saya.

    Reply
  • 5. abteilungsdeutsch  |  August 29, 2008 at 10:38 am

    Salam kenal juga dan saya menanti artikel2 yang lainnya .
    ciao

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


June 2008
M T W T F S S
« May   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Recent Posts

Blog Stats

  • 15,253 hits

%d bloggers like this: